![]()
Pesawaran,-Pupus sudah harapan orang tua santri asal Natar, ketika anak semata wayangnya MFR (12) pulang dengan luka jahitan di mulut dan trauma mendalam yang membuatnya enggan kembali ke Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussa’adah di Kabupaten Pesawaran, bahkan ke pesantren manapun.
Malam itu, seharusnya MFR duduk bersila dengan tenang sambil mendengarkan kajian selepas Maghrib. Namun, ketenangan berubah menjadi mimpi buruk. Sebuah tendangan keras dari sesama santri mengenai wajahnya. Tubuh mungil itu tersungkur, darah segar mengalir dari bibir dan hidungnya, hingga ia kehilangan kesadaran.
Santri baru satu bulan sepuluh hari mondok ini harus menahan sakit luar biasa. Bibir mungilnya dijahit delapan kali, empat di dalam, empat di luar. Luka fisik memang bisa disembuhkan dengan jarum dan benang, tetapi luka batin dan trauma di usia belia itu, siapa yang bisa menjahitnya kembali?
Saat malam kejadian, anak yang tak berdaya itu dibawa ke rumah sakit oleh pihak pondok, tanpa memberi tahu pihak keluarga. Bahkan setelah menjalani perawatan, ia tidak diopname, melainkan dipulangkan kembali ke pesantren dan hanya diinapkan di ruang UKS malam itu juga.
“Betapa kagetnya saya, mendeggar anak saya celaka. Seharusnya sebagai orang tuanya, dikabarkan saat kejadian. Anehnya, justru saya baru dikabarkan esok harinya. Waktu itu kondisi anak saya bengkak, sulit makan, dan masih lemah. Saya sangat menyayangkan pihak pondok tidak segera mengopname,” tutur sang ayah dengan suara bergetar menahan kecewa, meminta tidak menyebutkan namanya.
Pengakuan MFR membuat hati orang tuanya kian remuk. Rupanya, ini bukan kali pertama ia mengalami perundungan. Sebelum kejadian, ia sering mendapat perlakuan kasar dari santri lain yang lebih besar, ditendang, dipukul, bahkan kehilangan barang-barangnya. Semua itu seolah tak terpantau oleh pengawasan pondok.
Kini, setiap kali mendengar kata mondok, MFR menunduk dengan wajah takut. Kata-kata lirihnya tidak mau ke pondok lagi, menusuk hati ayah, bunda, dan keluarga besar. Anak yang tadinya ingin menjadi penghafal Qur’an, justru dihantui rasa takut dan trauma.
“Kami mulai meragukan kredibilitas pondok dalam mendidik santri. Alih-alih merasa aman, anak kami justru menjadi korban kekerasan. Ini sangat memukul kami sebagai orang tua, rasa trauma anak saya bahkan sampai terbawa di mimpi. Beberapa hari ini selalu mendengar anak saya mengigau seperti orang ketakutan,” ungkap sang ayah, tak kuasa menahan pilu.
Sementara itu, Pemilik Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussa’adah, KH. Edi Maulana, mengatakan, kejadian yang terjadi di lingkungan pondok yang menampung lebih dari 400 santri, bahwa persoalan antara keluarga korban dan pelaku telah diselesaikan secara kekeluargaan, dan peristiwa ini menjadi bahan evaluasi serius.
“Kami berterima kasih atas bantuan dan masukan. Insya Allah, hal-hal yang menjadi kekurangan akan kami perbaiki. Kami ingin terus mengoreksi diri agar pesantren ini semakin baik,” ujar KH. Edi Maulana saat diwawancarai oleh awak media di Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussa’adah, Kamis (8/5/2025).
Disinggung, sanksi apa yang diberikan pihak pesantren atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh santri kepada sesama santri, KH. Edi Maulana menegaskan bahwa langkah tegas berupa pemberhentian bisa saja dilakukan.
“Kami akan keluarkan,” jawabnya.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hingga saat ini belum ada tindakan nyata dari pihak pesantren untuk memberikan sanksi tegas. Santri yang terbukti melakukan perbuatan di luar akhlak dan nilai yang diajarkan di pondok masih belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius dari keluarga korban mengenai sejauh mana penerapan aturan dan komitmen Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussa’adah dalam menegakkan disiplin serta menjaga keamanan di lingkungan pendidikan.
Lemahnya pengawasan dan ketegasan dalam penegakan aturan menjadi catatan penting, sekaligus pembelajaran bagi semua pihak bahwa perlindungan santri harus menjadi prioritas utama agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di dunia pesantren. (Red)












