MALAM di Teluk Lampung selalu menyimpan misteri. Ketika masyarakat Kota Tapis Berseri terlelap, suasana berbeda di Teluk Lampung Pelabuhan Panjang. Saat gelap menyelimuti, para penghobi yang dikenal sebagai pemburu tinta hitam sedang berjuang. Mereka tidak mencari ikan besar, melainkan cumi-cumi, makhluk laut penuh teka-teki, yang membawa mereka berpetualang di tengah malam.
Kapal-kapal kayu dengan kapasitas 7-10 orang mulai berlayar, membawa para Angler (pemancing) menuju titik-titik strategis di Teluk Lampung. Berbekal joran, umpan egi, nasi bungkus, dan rokok, dengan semangat yang membara, mereka siap menghabiskan malam di tengah laut.
Bagi mereka, memancing cumi bukan sekadar hobi, melainkan sebuah petualangan yang sensasinya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagi salah satu penghobi pemburu tinta hitam.
Salah satu Angler di antaranya adalah Heri Pitoyo (53), warga Natar, Lampung Selatan, berprofesi sebagai buruh harian lepas. Malam itu, ia tampak sibuk menyiapkan joran dan umpan egi sebelum kapal benar-benar menjauh dari daratan.
Ada perjuangan yang harus dilalui, angin kencang yang berembus sering kali menggoyang kapal kecil yang ditumpangi. Terkadang ada saja candaan para pemburu tinta hitam untuk memecah kesunyian. “Cumi mendekatlah,” canda Heri.
Kadang, hujan turun tanpa peringatan, butiran air yang jatuh dari langit bercampur dengan hembusan angin, membuat suasana semakin menantang. Di saat seperti ini, tidak ada tempat berteduh. Para Angler hanya bisa menarik tudung jaket atau menundukkan kepala, menunggu hujan reda sambil tetap menjaga joran mereka tetap siaga.
Kapal kayu berkapasitas tujuh hingga sepuluh orang itu dikemudikan Eko (39), pemilik kapal yang sudah bertahun-tahun melayani pemancing cumi di Teluk Lampung. Perlahan, mesin kapal menderu pelan, membelah gelap menuju titik-titik yang diyakini menjadi tempat berkumpulnya cumi.
Di atas kapal, para pemancing yang biasa menyebut diri mereka Angler bersiap menghadapi malam panjang. Angin laut berembus kencang, sesekali menggoyang kapal kecil. Untuk mengusir dingin dan rasa tegang, candaan ringan pun terlontar.
“Kalau orang mabuk laut, makan mi goreng keluarnya mie kuah,” celetuk Joko (42), tenaga honorer di Pemerintah Kota Bandar Lampung yang sudah 5 tahun rutin berburu cumi di perairan Teluk Lampung.
Bagi yang sudah terbiasa, kondisi seperti ini bukanlah halangan. Justru di situlah letak tantangannya, saat hawa dingin semakin menusuk tulang, pemilik kapal biasanya mengambil inisiatif menyeduhkan kopi. Di atas kapal yang terombang-ambing di lautan, secangkir kopi panas terasa seperti penyelamat. Aroma kopi bercampur dengan udara laut yang asin, menciptakan suasana yang begitu khas.
Para pemancing menyeruput kopi mereka dalam keheningan, menikmati sejenak istirahat sebelum kembali fokus pada perburuan cumi. Bagi mereka, momen ini lebih dari sekadar menghangatkan tubuh, ini adalah momen kebersamaan, berbagi cerita di bawah langit malam yang luas.
Strategi utama dalam berburu cumi triknya mendekati kapal-kapal tongkang yang bersandar. Cahaya temaram lampu sorot yang digunakan kapal tongkang untuk aktivitas bongkar muat tanpa disadari menarik perhatian cumi-cumi naik ke permukaan.
Namun, tidak semua kapal tongkang mengizinkan kapal kecil mendekat. Ada kapten kapal tongkang yang memahami aktivitas para pemancing dan membiarkan mereka mencari rezeki, tetapi ada juga yang melarang keras.
Dengan bahasa yang tidak dimengerti, karena menggunakan bahasa asing, para pemilik kapal dan para Angler memahami penolakan dari orang yang berada di atas kapal tongkang, bahwa kapal kayu dilarang mendekat.
“Takut banget, emangnya kita bajak laut Somalia,” ucap Angler sambil menghisap rokok kreteknya.
Pemilik kapal kayu tak kehabisan akal, mereka tidak akan menyerah begitu saja, demi memberikan pelayanan terbaik kepada para pemburu tinta hitam yang merogoh kocek Rp80 ribu per orang (Open Trip). Mereka akan mencari kapal tongkang lain yang lebih bersahabat atau bertahan di area yang masih terkena pantulan cahaya temaram kapal tongkang.
Para Angler harus sigap ketika kapten kapal kayu ini sudah memarkirkan kapalnya di ujung kapal tongkang yang memiliki cahaya lampu. Teknik eging memainkan peran penting di sini, umpan tiruan berbentuk udang harus dimainkan dengan cara yang tepat agar cumi tertarik. Begitu ada tarikan, sensasi khasnya terasa di genggaman. Tarikannya tidak sekuat ikan besar, tetapi cukup memberi perlawanan yang membuat adrenalin naik.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Jika tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, kapten kapal kayu akan pindah mencari spot kapal tongkang lainnya. Mereka berharap pada waktu subuh biasanya cumi akan keluar. Entah sudah ratusan kali atau ribuan joran dinaik-turunkan untuk memancing agar cumi memakan umpan.
Saat fajar mulai merekah, tibalah saatnya menghitung hasil tangkapan. Jika malam itu mendapatkan banyak cumi, wajah-wajah lelah yang tidak tidur semalaman berubah menjadi sumringah. Mereka yang beruntung membawa pulang wadah termos penuh cumi, kurang lebih 7 kg per Angler.
Namun, tidak semua Angler membawa hasil buruannya. Ada kalanya laut tidak bersahabat. Tidak satu pun cumi menyambar umpan, dan para Angler harus pulang dengan tangan kosong.
Wajah mereka mungkin terlihat lelah dan sedikit kecewa, tetapi tidak ada rasa putus asa. Bagi mereka, ini adalah bagian dari permainan. Jika malam ini kosong, maka besok malam akan dicoba lagi. Laut selalu menyuguhkan misteri kadang murah hati, kadang pahit.
Ketika cumi sedang melimpah, para Angler menyebutnya adaan atau along. Ini adalah istilah yang mereka gunakan untuk menandakan bahwa musim cumi telah tiba.
Kabar baik ini akan segera menyebar. Pemilik kapal kayu yang mengetahui kondisi ini akan mengabarkannya kepada pemancing lain yang tersebar dari grup WhatsApp ataupun media sosial Facebook, semakin banyak yang tahu, semakin banyak pemancing yang turun ke laut.
Bagi pemilik kapal, ini adalah berkah, semakin banyak pemancing yang menyewa kapal mereka, maka semakin besar pula pemasukan yang didapatkan.
Bagi pemancing, ini adalah kesempatan. Jika malam ini berhasil mendapatkan cumi dalam jumlah banyak, maka malam berikutnya harus diulang.
Memancing cumi di Teluk Lampung bukan hanya soal menangkap cumi. Pengalaman ini merupakan petualangan yang mengajarkan kesabaran, ketahanan, dan ketekunan.
Mereka yang berani menantang lautan di malam hari, siap menghadapi hujan, angin, dan ombak, bukan sekadar mencari hasil tangkapan. Mereka mencari pengalaman dan sensasi.
Karena di laut, tidak ada yang bisa dipastikan. Tidak ada janji bahwa setiap malam akan membawa hasil. Tetapi ada satu hal yang pasti, setiap Angler yang pernah merasakan sensasi tarikan cumi di ujung joran, akan selalu ingin kembali.
Karena berburu tinta hitam di Teluk Lampung bukan hanya sekadar hobi, tetapi sebuah tradisi yang akan terus berlanjut selama laut masih menyimpan misterinya. (Rosid)






