
BANDARLAMPUNG- Tingginya angka temuan kasus HIV di Kota Bandarlampung belakangan ini bukan menjadi sinyal darurat wabah baru.
Sebaliknya, hal itu merupakan indikator dinas kesehatan (dinkes) setempat berhasil membongkar fenomena “gunung es” penyakit menular itu di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung melalui Dinkes kini menerapkan strategi jemput bola dengan turun langsung ke berbagai lokus.
Hasilnya, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk penapisan (screening) HIV melampaui target hingga lebih dari 119 persen.
Kepala Dinkes Bandarlampung, Muhtadi A. Temenggung, menegaskan angka temuan tinggi justru menunjukkan berhasil pelacakan.
Menurut Muhtadi, jika capaian sudah di atas 100 persen, artinya mitigasi risiko keberlanjutan penyebaran sudah dinkes tangani.
“Ini bukan darurat, melainkan bukti kita serius memutus mata rantai penularan menuju target Eliminasi HIV 2030,” tegasnya, Selasa (24/2/2026).
Dalam pelaksanaan di lapangan, Dinkes memfokuskan screening terhadap delapan kelompok indikator SPM, yakni ibu hamil, penderita TBC, penderita Infeksi Menular Seksual (IMS).
Kemudian Wanita Pekerja Seksual (WPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), waria, Pengguna Narkoba Suntik (Penasun), serta Warga Binaan Pemasyarakatan.
Terkait temuan reaktif, termasuk 227 kasus pada kelompok LSL, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bandarlampung, dr. Liskha Sari Sansiaty menegaskan, angka itu merupakan hasil kerja aktif petugas di lapangan.
Kian cepat menemukan, kian cepat pula pasien mendapatkan akses pengobatan sehingga dapat menekan potensi penularan.
Khusus ibu hamil, Dinkes menerapkan program Triple Eliminasi secara gratis. Setiap ibu hamil wajib menjalani screening HIV, sifilis, dan hepatitis guna mencegah penularan dari ibu ke bayi.
Kemudian, untuk layanan pengobatan, sebanyak 31 puskesmas di Bandarlampung telah memberikan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).
Dinkes juga menerapkan strategi Fast Track 95-95-95, yakni 95 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) terdiagnosis, 95 persen mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), dan 95 persen mencapai supresi virus.
“Pasien rutin minum obat sesuai dosis dapat menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Dengan kondisi tersupresi, virus tak lagi mudah menular dan harapan hidup tetap panjang serta produktif,” jelasnya.
Selain itu, guna menjangkau lokus khusus, seperti tempat hiburan malam, Dinkes menggandeng lintas sektor, mulai Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition.
Pemkot Bandarlampung juga menjamin penuh rahasia identitas pasien secara by name by address.
Dinkes mengimbau masyarakat tak mudah terpengaruh hoaks. HIV tak menular melalui pelukan, sentuhan, berbagi alat makan, obrolan, maupun penggunaan toilet umum.
“Penularan hanya terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual tak aman, serta dari ibu positif ke anak yang dikandungnya,” pungkasnya. (*)
















